Sabtu, 15 Desember 2012

Museum Affandi

Ditulis oleh : Eva Kurniadevi Agustin

Museum Affandi menyimpan karya-karya Abdullah Affandi sejak ia mulai serius menekuni dunia lukis pada tahun 1938 dengan menjadi pelukis poster film. Salah satu karya pentingnya adalah poster pesanan Bung Karno dengan tema perjuangan "Bung Ayo Bung". Poster ini dapat dilihat di salah satu galeri Museum Affandi yang terletak di pinggiran Sungai Gajah Wong, Yogyakarta.

Museum ini berbentuk seperti daun pisang, mewakili kekaguman Affandi terhadap filosofi daun pisang. Menurutnya daun pisang tidak hanya sebagai pembungkus makanan tetapi juga pelindung dari guyuran hujan. Affandi ingin suatu saat karyanya menjadi inspirasi banyak orang, untuk itu ia "membungkus" mimpinya dalam museum berbentuk menyerupai daun pisang supaya awet hingga jauh ke generasi berikutnya.

Museum ini terdiri dari tiga galeri. Galeri pertama terletak di sisi barat museum berisikan karya Affandi sepanjang menekuni karir di bidang seni lukis. Mulai dari sketsa hingga karya jadi, lukisan istri dan anak Affandi, dan beragam tema lainnya. Di tengah galeri terdapat mobil Colt Gallan tahun 1976 yang dimodifikasi menyerupai bentuk ikan. Juga terdapat sepeda onthel kuno yang masih mengkilap. Dua kendaraan ini adalah kendaraan yang sering digunakan Affandi untuk bepergian.

Galeri kedua berisi karya-karya seniman lukis lain seperti Basuki Abdullah, Bagung Kusudiharja dan Popo Iskandar. Galeri ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama berisi lukisan-lukisan abstrak sedangkan lantai kedua berisi lukisan-lukisan surealis dengan coral tegas.

Galeri ketiga merupakan bangunan berbentuk mirip pelepah daun pisang. Sebagian dari galeri ini difungsikan untuk ruang pameran, dan sebagian lagi untuk sanggar melukis anak-anak bernama Sanggar Gajah.

Dari seberang Galeri ketiga terdapat sebuah menara yang bisa digunakan untuk melihat seluruh museum dan pemandangan sekitar museum seperti aliran Sungai Gajahwong.

Museum ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 16.00 Harga tiket Rp 10.000 untuk wisatawan lokal sementara untuk wisatawan asing dikenai harga tiket sebesar Rp 20.000







Rabu, 21 November 2012

Museum Sonobudoyo

Ditulis oleh : Annisa Hanum Baiduri

Pada tanggal 3 Oktober 2012, saya bersama empat teman saya berkunjung ke beberapa museum di Jogja. Museum yang kami kunjungi hari itu adalah Museum Vredeburg, Museum Anak Kolong Tangga, Museum Kereta Kencana Keraton Yogyakarta, Museum Keraton Yogyakarta, dan Museum Sonobudoyo. Tetapi museum yang akan saya bahas kali ini adalah Museum Sonobudoyo saja.

Menurut data yang saya temui di internet, Museum Sonobudoyo berdiri resmi pada tanggal 6 November 1935. Awalnya, Museum Sonobudoyo adalah sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok yang bernama Java Institut. Tetapi, oleh keputusan Kongres pada tahun 1924, Java Institut dibentuk menjadi sebuah museum. Selanjutnya, pada tahun 1974, Museum Sonobudoyo ke Pemerintah Pusat atau Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sampai dengan sekarang.

Museum ini mempunyai sepuluh jenis koleksi. Apa-apa saja? Mereka adalah jenis koleksi geologika, biologika, ethnografkai, arkeologi, numismatika atau heraldika, historika, filologika, keramologika, senirupa dan teknologika.

tampak depan Museum Sonobudoyo

Menurut saya, museum ini sangat bagus. Kondisi museum begitu cantik dan bersih. Jenis-jenis koleksinya menarik. Yang menjadi nilai plus pada museum ini adalah kondisi koleksi-koleksinya yang sangat bersih dan rapi, menunjukkan bahwa dilakukan perawatan yang baik terhadap koleksi-koleksi ini.

Berikut beberapa dokumentasi koleksi-koleksi di Museum Sonobudoyo yang saya punya :

koleksi topeng

koleksi wayang






koleksi Al-Quran hasil tulisan tangan




saya dan teman-teman di ruangan koleksi kain batik


Dari keempat museum yang hari itu saya kunjungi, menurut saya, museum ini yang paling bagus. Penataannya rapi, lingkungannya bersih, suasananya juga nyaman karena terdapat beberapa pendingin ruangan di beberapa ruangan koleksi. Petugas penjual tiket di depan juga sangat ramah. Oh iya, harga tiket untuk masuk ke museum ini tidak mahal loh. Cukup dengan membayar Rp 3000 saja. Tetapi jika kita membawa kamera, kita diwajibkan untuk membeli tiket izin untuk memotret. Seingat saya, tiket itu berharga Rp 2000 saja.

Jujur, jika saya diminta memberi kritikan negatif terhadap kondisi museum ini, saya tidak bisa menemukannya. Menurut saya, museum ini sudah sangat bagus. Mungkin, jika diperlukan, ditambah perangkat-perangkat canggih seperti komputer yang berisi informasi-informasi tentang sejarah museum tersebut dan koleksi-koleksi yang ada di sana, atau peta museum tersebut yang bisa mempermudah para pengunjung dalam menjelajahi museum. Selebihnya, museum ini sudah sangat baik dan menyenangkan bagi pengunjung seperti saya.

Jumat, 16 November 2012

Museum Anak Kolong Tangga

Ditulis oleh       : Taffani Rahma Yuandara

Museum merupakan gudang ilmu, budaya serta sejarah. dalam mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Budaya, kami mendapat tugas mengunjungi serta membahas isi dari museum-museum yang ada di Jogjakarta. saya dan teman-teman saya mengunjungi beberapa museum dan saya memilih "Museum Anak Kolong Tangga", karena kecintaan saya terhadap dunia anak.
Museum Anak Kolong Tangga merupakan salah satu museum di daerah istimewa Yogyakarta. Museum tersebut berada di lantai 2 gedung Taman Budaya jl. Sriwedani 1, Yogyakarta 55122, tepatnya di sebelah utara Taman Pintar, jika dari arah Malioboro, masuk ke jalan di sisi Pasar Beringharjo, lalu belok kanan. Sesuai dengan namanya, museum ini terkesan mengumpat dibawah kolong tangga, tak ada papan nama besar mentereng yang menunjukan keberadaannya. Tetapi begitu mendekati pintu masuk yang berada dilantai dua gedung Taman Budaya, barulah terlihat gambar mencolok dipintu masuknya, dengan berbagai macam gambar khas anak-anak.

Tampak muka Museum Anak Kolong Tangga, tergeletak beberapa mainan dengan sengaja untuk anak-anak yang berkunjung.

Museum Anak Kolong Tangga resmi dibuka pada 2 Februari 2008, didirikan oleh Rudi Corens, seorang seniman, kolektor, kurator dan mantan dosen di Universitas Gadjah Mada berkebangsaan Belgia yang telah menetap di Yogyakarta sejak tahun 1991. Ia bekerja sama dengan Dyan Anggraini, kepala Taman Budaya Yogyakarta untuk mendirikan Museum Anak Kolong Tangga ini.

Rudi Corens, pendiri Museum Anak Kolong Tangga.

Berawal dari kecintaannya terhadap warisan budaya Indonesia dan keinginannya menggali lebih dalam mengenai jaman kolonial di Indonesia. Selain itu, ia juga begitu mencintai dunia anak, terbukti dari koleksi yang ada di Museum Anak Kolong Tangga sebagian besar adalah koleksi pribadi miliknya. Ia memiliki lebih dari 900 koleksi mainan. Museum Anak Kolong Tangga sendiri memiliki koleksi hampir 6000 buah mainan dalam berbagai bentuk dan jenis serta berasal dari berbagai negara. Tetapi karena ukuran museum yang tak cukup besar membuat terbatasnya mainan yang dipamerkan, hanya sekitar 1000 buah mainan. Beberapa koleksi ditempatkan diluar ruangan, beberapa ditempatkan di etalase ruangan. Koleksi lainnya masih berada di gudang sekretariat yayasan yang berlokasi di Bintaran Kulon MG II/25 Surokarsan – Margansan, Yogyakarta. Museum Anak Kolong Tangga beada dibawah naungan Yayasan Dunia Damai.
Koleksi yang dipamerkan sebagian besar adalah permainan tradisional nusantara yang populer pada masanya, sederhana, tapi memiliki nilai budaya yang begitu kaya. Serta terdapat permainan mancanegara yang khas dari beberapa negara, seperti boneka berbahan kain maupun kayu, boneka tangan hingga mainan alat-alat rumah tangga eropa. Selain permainan, dimuseum ini juga menampilkan beberapa barang anak dari masa lampau, mulai dari tiket bus usang, rapor sekolah, dan beberapa perlengkapan sekolah bertahun-tahun yang lalu.


Contoh mainan anak-anak Indonesia pada jaman dahulu, dua buah sepeda mini dan keranjang bayi.

Beberapa peralatan sekolah milik anak Indonesia yang sudah berumur puluhan tahun.


Topeng ondel-ondel

The Gingerbread Man.

Proyektor Film Rumah yang dibuat pada tahun 1930an

Boneka Tali Mancanegara

Menarik sekali sebenarnya isi dari museum ini. Seru namun sayang, museum ini kurang apik kemasannya. Walaupun terletak dikolong tangga tapi bukan berarti tak terurus, kan? Museum ini sedikit berdebu dan agak engap sehingga kurang nyaman berada didalamnya berlama-lama, padahal isinya begitu menarik. Museum ini dimaksudkan sebagai sebuah persembahan istimewa bagi anak-anak. Memang benar, karena sudah banyak sekali mainan anak yang tergerus oleh jaman modernisasi, yang sudah tidak diproduksi kembali. Sangat berkurang nilai seni motorik kreatif dari anak-anak. Namun, bukannya sebuah persembahan itu harus ditampilkan dengan sebaik mungkin.. Museum ini bertujuan agar pengunjung, khususnya anak-anak dapat menimba pengetahuan tentang masa lampau serta menanamkan nilai-nilai budaya dan turut menjaga kelestariannya. Namun, jika kondisi museum kurang nyaman, lantas bagaimana anak-anak dapat menimba ilmu dengan baik didalamnya?
 Ini adalah beberapa komentar pengunjung yang ada dibuku tamu Museum Anak Kolong Tangga. Komentar berwarna hijau adalah komentar polos dari pengunjung cilik museum ini, yang menurut saya patut diperhitungkan.

Seharusnya komentar ini menjadi catatan penting bagi sebuah museum  yang hanya memungut biaya masuk sebesar Rp. 4000


Isi dari museum ini begitu menarik, lengkap dengan segala cerita didalamnya. Museum ini begitu total dalam pengembangan dan pelestarian budaya anak. Ini dibuktikan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan pihak museum, antara lain adanya bengkel seni seperti galeri-galeri seni lainnya, letaknya tak jauh dari posisi museum berada. Bengkel ini memproduksi berbagai mainan anak, kerajinan tangan, dan barang seni lainnya. Setiap akhir pekan, museum ini selalu dipadati anak-anak karena kegiatan permainan aktif yang selalu digelar pihak museum. Kegiatan lain, yaitu “The Museum Comes Visit You” ditujukan untuk mengunjungi pasien anak-anak diberbagai rumah sakit. Menarik sekali bukan?
Saya sebagai seorang mahasiswi yang menggemari dunia anak, saya sangat menyukai isi keseluruhan museum ini. Namun, bukankah lebih baik jika perawatannya ditingkatkan perlahan? Mulai dari membersihkan seisi museum denga rutin, lalu perlahan tapi pasti, memperbesar ruang dari museum agar semakin banyak koleksi yang dapat dipamerkan, tanpa mengurangi ruang halaman depan untuk kegiatan anak-anak bermain. Dengan bantuan masyarakat sekitar dan pemerintah, saya yakin museum ini akan menjadi lebih baik dengan usaha perbaikannya.

Ukuran bagian pertama Museum